Situasi Timur Tengah Memanas, Nasib Jemaah Umrah RI Bagaimana? Ini Kata Kemenhaj
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
02 - Mar - 2026, 05:29
JATIMTIMES - Situasi Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Televisi pemerintah Iran bahkan mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan itu. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Pemerintah Imbau Tunda Umrah Imbas Konflik AS-Israel dan Iran, Jemaah Diminta Utamakan Keselamatan
Dampaknya, sejumlah maskapai dan beberapa negara menutup jalur udara demi keselamatan penerbangan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap jemaah umrah Indonesia yang sedang berada di Arab Saudi maupun yang hendak berangkat atau pulang ke Tanah Air.
Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) menyampaikan imbauan resmi.
Dalam keterangannya, Kemenhaj menyebut beberapa penerbangan menuju dan dari Arab Saudi berpotensi mengalami penjadwalan ulang, penundaan, atau pembatalan.
Jemaah diminta memastikan status penerbangan secara berkala sebelum berangkat ke bandara serta mengikuti arahan resmi dari maskapai dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).
Kemenhaj bersama Perwakilan Republik Indonesia di Arab Saudi dan otoritas terkait disebut terus berupaya memastikan jemaah tetap aman dan terlayani dengan baik. PPIU juga diminta menjalin komunikasi aktif dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, dan KBRI Riyadh.
Keluarga jemaah di Tanah Air diminta tetap tenang dan memperoleh informasi melalui saluran resmi PPIU masing-masing.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, secara khusus menyampaikan imbauan penundaan kepada jemaah yang akan berangkat dalam waktu dekat.
“Pertama kami ingin menyampaikan menghimbau kepada seluruh Jamaah Umroh yang akan berangkat dalam waktu dekat. Itu untuk menunda keberangkatan sementara sampai dengan kondisivitas itu benar-benar hadir di Timur Tengah,” ujar Dahnil, dikutip akun Instagram resminya, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan langkah tersebut perlu dilakukan demi memastikan keamanan dan kenyamanan warga negara Indonesia yang akan menunaikan ibadah umrah di Arab Saudi.
“Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan seluruh warga negara Indonesia yang akan menunaikan ibadah Umroh di Saudi Arabia,” lanjutnya.
Bagi jemaah yang saat ini sedang berada di Makkah dan Madinah, pemerintah meminta agar tetap berkoordinasi dengan Kantor Urusan Haji, KJRI Jeddah, maupun pihak berwenang dari Pemerintah RI.
“Untuk Jamaah Umroh yang sedang menunaikan ibadah di Tanah Suci untuk terus berkoordinasi dengan kantor urusan haji di Tanah Suci maupun dengan konjen di Jeddah maupun dengan pihak-pihak berwenang dari Pemerintah Republik Indonesia yang ada di Tanah Suci,” kata Dahnil.
Ia mengungkapkan pemerintah melalui Kemenhaj dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia siap memberikan informasi dan perlindungan.
“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Haji dan Umroh dan juga Kementerian Luar Negeri siap memfasilitasi dan memberikan informasi. Informasi yang cukup maupun perlindungan terhadap Jamaah yang sedang menunaikan ibadah di Tanah Suci,” ujarnya.
Baca Juga : Tebing Setinggi 20 Meter Longsor, Tutup Jalan Antar Dusun hingga Aliran PDAM Terputus
Pemerintah juga memastikan maskapai, hotel, dan pihak terkait tetap melindungi serta memfasilitasi kebutuhan jemaah.
Untuk jemaah yang akan kembali ke Indonesia, Dahnil meminta agar terus berkomunikasi dengan travel atau aparat yang bertugas.
“Untuk Jamaah yang segera akan kembali ke Tanah Air untuk terus berkomunikasi dengan travelnya atau apabila menjadi Jamaah Umroh Mandiri juga terus berkoordinasi dengan aparat yang sedang bertugas di Kementerian Luar Negeri maupun Kementerian Haji dan Umroh,” katanya.
Ia menambahkan, apabila terjadi penundaan penerbangan, maskapai diminta menyediakan penginapan sementara. Pemerintah Arab Saudi juga disebut akan memberikan perpanjangan visa bila masa berlaku habis.
“Kalau penerbangan menunda kepulangan, maka maskapai penerbangan untuk menyediakan penginapan sementara dan juga perpanjangan visa disediakan oleh pemerintah Saudi Arabia, apabila visanya telah habis,” jelasnya.
Kemenlu dan Kemenhaj disebut akan terus mendampingi seluruh proses kepulangan jemaah.
Di sisi lain, terkait penyelenggaraan ibadah haji 2026 atau 1447 Hijriah, Dahnil memastikan hingga saat ini belum ada dampak signifikan.
“Untuk Jamaah Haji yang akan berangkat di tahun 2026 atau 1447 Hijriyah maupun keluarga kami ingin menyampaikan bahwasannya persiapan penyelenggaraan haji di 2026-1447 Hijriyah itu berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan rencana,” ujarnya.
“Belum ada dampak-dampak yang signifikan terhadap proses perencanaan dan persiapan penyelenggaraan haji di 2026,” lanjutnya.
Ia berharap konflik di Timur Tengah segera mereda agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.
“Mudah-mudahan penyelenggaraan haji di 2026 bisa berjalan lancar tidak berdampak dari konflik di Timur Tengah dan konflik di Timur Tengah bisa selesai bisa kembali reda dalam waktu dekat," jelasnya.
"Oleh sebab itu mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar persiapan haji di 2026 dan konflik di Timur Tengah itu bisa mereda serta persiapan kita menjadi lancar dan Jamaah bisa menunaikan ibadah dengan khusuk,” pungkas Dahnil.
