Kesenian Kentrung Jatimenok, Warisan Leluhur Jombang yang Terancam Punah
Reporter
Adi Rosul
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
13 - Oct - 2018, 09:12
Setiap daerah pasti memiliki kesenian tradisional atau kebudayaan yang ditinggalkan oleh para leluhur terdahulu. Nah, di Kabupaten Jombang ini juga memiliki warisan kesenian tradisional berupa seni tutur melalui alat musik tradisional berupa kentrung.
Kesenian kentrung ini juga bisa dikatakan sebagai sastra lisan yang biasanya menceritakan cerita rakyat melalui lakon-lakon yang menyimbolkan kondisi sosial masyarakat. Seperti yang dijelaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada lamannya, bahwa kesenian tradisional kentrung merupakan seni sastra lisan yang diiringi tabuhan terbangan (jenis alat musik tradisional, red), dan kendang dari berbagai ukuran.
Pemberian nama kentrung ini, berasal dari suara yang dikeluarkan oleh alat musik tradisional tersebut yang berbunyi "trung..trung".
Di Kabupaten Jombang, kesenian kentrung ini bernama Kentrung Jatimenok. Disebut Kentrung Jatimenok, sebab kentrung tersebut berasal dari Dusun Jatimenok, Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. "Satu-satunya kentrung di Jombang itu ya di Jatimenok," beber Budayawan Jombang, Nasrul Ilahi, Sabtu (13/10).
Masih dari penjelasan budayawan yang akrab disapa Cak Nas ini, Kentrung Jatimenok tersebut biasanya dimainkan oleh empat orang. Satu orang sebagai dalang untuk menuturkan cerita dan sekaligus menabuh kendang. Ketiga pemain lainnya, masing-masing memainkan alat musik tradisional berupa terbang, cimplung dan ketipung.
"Di Jombang, ada Kentrung Jatimenok yang dulu pernah menjadi langganan di atas panggung sekitar tahun 50-an hingga 70-an," ungkapnya.
Untuk cerita yang dibawakan, lanjut Cak Nas, lakon pakem yang dibawakan Kentrung Jatimenok ini biasanya mengisahkan lakon Anglingdarma dan Ajisaka. "Kesenian ini diprediksi sudah berkembang pada masa pemerintahan Keislaman Cirebon. Jadi pasca (pemerintahan) Demak, barengan Mataram atau Pajang. Kalau melihat alatnya, hampir sama dengan yang dibawa Pangeran Benowo di Wonomerto (salah satu desa di Kecamatan Wonosalam, Jombang)," tuturnya.
Sementara, dari cerita yang diungkap oleh Mbah Badri (78), seorang pewaris Kentrung Jatimenok, bahwa kesenian tradisional yang diwarisi dari ayahnya bernama Mbah Senawi ini, pernah dipentaskan di Pendopo Kabupaten Jombang di era Bupati Hudan Dardiri (kisaran tahun 1979 - 1983). "Kentrungnya sempat beberapa kali ditanggap di pendopo (Pendopo Kabupaten Jombang, red) saat Bupati Hudan," tuturnya Mbah Badri.
Selain itu, Mbah Badri juga menyebutkan bahwa Kesenian Kentrung Jatimenok ini sempat ramai mendapat tanggapan (disewa untuk pementasan, red) di tahun 1970. Biasanya, Kentrung Jatimenok ini ditanggap untuk memperingati sebuah perayaan atau tasyakuran. "Dulu kalau tanggapan ramai, bisa sampai kemana-mana," kata Mbah Badri.
Namun, seiring berjalannya waktu, Kesenian Kentrung Jatimenok ini mulai terancam generasinya. Penerus terakhir Kentrung Jatimenok ini mengatakan bahwa anak cucunya belum tertarik untuk meneruskan darah seni tersebut.
"Dulu saya mau karena terpaksa. Ada orang kesini mencari kesenian kentrung, kemudian saya dipaksa supaya bisa nuruti nazar orang tersebut. Nazarnya, kalau anaknya sembuh dari sakit, akan nanggap kentrung dari Jatimenok. Jadi kemudian saya lanjutkan. Lah ini, cucu-cucu saya belum (belum mau melanjutkan, red)," tutup Mbah Badri.(*)
